ANNUAL LEAVE THAT NEVER HAPPENS

Annual leave that never happens…
Repetisi
I know

 

picture taken from https://www.oxford-royale.co.uk/

 

This is gonna be my first blog post after couple months. Untuk memulai menulis ini sebenarnya berat banget. Sudah beberapa kali saya mencoba menulis atau pun review produk. Tapi hasilnya selalu nihil. Jari ini seperti kaku, dingin, dan segala ide dalam otak lenyap seketika. I feel numb inside. Jadi kalau ada yang tanya, are you okay? I’m phisically healthy, but mentally not okay. Kepergian mami dalam hidup saya merupakan pukulan terbesar dalam sejarah kehidupan saya. Nggak pernah terpikirkan bahwa beliau akan secepat ini meninggalkan saya. Masih terbayang jelas semuanya. Senyum, tawa, marah, perhatian, kasih sayang dan masih banyak hal yang nggak bisa saya jelaskan satu-satu. Terlalu banyak memori indah yang terekam dalam benak ini. 

Banyak yang bilang,
‘Yang sabar ya El. lo jgn mendam kesedihan kelamaan juga…yakini bahwa ini yg terbaik buat nyokap…gw yakin nyokap lo udah senyum disana…ayo lah el…start new day new life…nyokap lo sudah mulai itu bersama Tuhan-nya’

‘Mama km cuma musafir…yg jika tidak kembali maka kita yg akan menemuinya. Cepat atau lambat kita bakal kehilangan semuanya el…sabar dan ikhlas cuma kuncinya’
Some people don’t know what it really feels like to lose someone forever. Like, for-ever. Sebagian orang, pastinya, sudah ada yang pernah kehilangan ibunya. It leaves a hole in your heart that words can’t describe. You know you’ll never see them again. You’ll never have another conversation, another hug, another laugh, another argument, or another ordinary moment together.
I lost my mum.

She was half of my soul, my heart. She was my safe place.

If it were as simple as people saying, “Time heals,” or as easy as removing a tattoo with a laser, I’d take that deal in a heartbeat. But it isn’t. I can smile, but nothing compares to having her here.

Some people say I’m selfish for letting myself drown in grief. Am I?

Others say it’s okay to grieve until you’re ready to face the world again. But am I ready? No, I’m not. I can laugh if I want to. I can smile in front of people. But underneath it all, nothing feels the same. Can I live with the pain? I’m trying. I’m not saying I haven’t tried. You have no idea how hard I’ve tried.  Bahkan hingga sampai sekarang—walau saya sudah tidak sering nangis, setiap memegang dada, saya masih dapat merasakan rasa sakit. Sakit kehilangan. Sakit yang saya sendiri nggak tau kapan sembuhnya. Hanya waktu. Ya, waktu.
Sebagian besar kalian mungkin tahu, bahwa saya anak tunggal yang lahir dari seorang ibu single parent. Saya mulai bekerja sejak umur 17 tahun sebagai tulang punggung keluarga. It wasn’t easy anyway. Ketika ternyata pendidikan harus terkatung-katung karena perekonomian keluarga mulai morat-marit. Mami tiba-tiba jatuh sakit mengidap diabetes dan usahanya bangkrut. Besar dalam kasih sayang seorang ibu dengan masa kecil berkecukupan. Sekolah di sekolah swasta yang masuk daftar ‘it school’ dan sempat mengecap bangku kuliah di universitas. Sejak saat itu, saya mulai bekerja. Dari yang nggak tau apa-apa, sempat frustasi juga. Pekerjaan pertama di bioskop dengan gaji IDR 45.000/hari, 5 hari kerja dan 2 hari libur. Di bioskop kurang lebih hampir 1 tahun. Pernah saya pengangguran selama 2 bulan which is hard time for us. Teringat saya pernah melamar kerja di sebuah perusahaan besar di bilangan Sudirman yang berakhir kekecewaan (BACA DI SINI). Lalu sempat kerja di hotel sebagai pelayan, parahnya gajinya cuma IDR 41.000/hari tanpa tambahan lainnya selama 10 bulan. Can you imagine me and mom must survived with 1 million salary or even less than that for a month? But we made it. Susah senang saya alami bersama dengan mami. Mami yang suka ngomel, ngelawak, jadi musuh, jadi sahabat, jadi dokter, dan banyak hal lainnya lagi. She’s my hero. Apapun yang terjadi, saya selalu berdiskusi dengan beliau. Hingga hal sepele dan terpenting dalam hidup saya, beliau adalah orang pertama yang selalu tanyakan pendapatnya. Sering kami berdebat karena perbedaan pendapat. Atau, kenyataan yang dilontarkan dari mulut mami tidak sejalan dengan otak saya yang menolak kebenaran untuk setuju.
Tiap tahunnya, perjalanan karir saya semakin membaik. Itu semua berkat doa mama. Hingga di tahun 2016, karir saya jauh lebih membaik. Sangat membaik. Walau mau tak mau hal terpenting dalam hidup saya dan mama harus tergadaikan, waktu. Saya harus menghabiskan banyak waktu untuk pekerjaan saya. Saat itu, rasanya saya ingin membelah diri. Kelelahan mendera ketika saya harus mengurus kantor, rumah, dan mama. Mama yang sudah lansia (77 tahun) tentunya butuh penanganan khusus. Saat-saat di mana mencari perawat atau pun pembantu merupakan hal sulit. Karena sangat tidak mudah mencari orang yang bisa dipercaya dan telaten mengurus mama maupun rumah. Karena kami pernah mengalami 2-3 kali hal tidak mengenakan terkait ART. Apalagi kami cuma berdua di rumah. Ketika saya pergi kerja, tentu mama akan sendiri sama si ART. Rasa ngeri harus meninggalkan beliau dengan orang asing sering menggelayut dalam hati.
 
taken from http://i.huffpost.com/
Mama yang 2 tahun terakhir ini sering jatuh sakit tentunya menguras banyak biaya dan tenaga. Dilain pihak saya tetap harus bekerja. Tapi disisi lain saya harus menjaga beliau. Menjadi anak tunggal bukan hal mudah. Saya sendiri sering kesal ketika orang-orang cuma bisa berkata, “Enak ya jadi anak tunggal. Pasti dimanja deh!” Ingin rasanya mereka menggantikan posisi saya barang sesaat sebelum lidahnya dengan mudah melontarkan kata-kata menyebalkan itu. Terlalu sering saya menangis, berusaha tegar, berusaha kuat. Saya cuma manusia. Saya berhak merasa lelah dan penat. Atau kadang merasa ingin menyerah. Tapi setelah itu saya pasti bangkit lagi. Karena saya selalu teringat mami. Mami adalah sosok wanita terkuat dalam hidup saya. Mami adalah Kartini saya.
Masih hangat dalam benak bagaimana saya pontang panting mengurus semuanya. Bangun pagi bergegas menyiapkan sarapan mama-menyuapi dan mengganti pampers beliau-berangkat kerja-meeting-jam makan siang balik ke rumah untuk kasih makan mama dan ganti pampers-lalu balik lagi ke kantor. Begitu terus siklusnya. Capek? Jangan ditanya.
Tiga sampai empat bulan terakhir ini kami sering ribut. Mami yang balik seperti anak-anak menagih waktu agar saya lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Bodohnya saya nggak sadar, mungkin itu salah satu tanda waktu mami nggak akan lama lagi. Saat itu, saya hanya bisa marah karena mami terlalu banyak menuntut. Kurang istirahat dan waktu untuk diri sendiri mengakibatkan saya mudah marah. Dan sering kali saya menggunakan kata-kata untuk menyakiti beliau.
Tapi, kalau saya tidak bekerja, dari mana uang untuk makan dan berobat? Semua butuh biaya, bukan? Dan lagi, tanggung jawab saya terhadap kantor dan penanam modal mengharuskan saya harus bisa profesional bekerja. Setiap mami opname, ada perasaan kesepian yang menghinggap. Saya sering berharap saya memiliki adik atau kakak untuk berbagi kesedihan, keluh kesah, atau sekedar berpeluk sambil menangis bersama.
Kami keluarga keturunan Tionghoa. Dan mami adalah orang yang paling semangat merayakan imlek atau yang lebih dikenal dengan Chinese New Year atau Sinchia. Ya, beliau anak tertua di keluarga besar. Walau susah, beliau akan mengusahakan dan bahkan sering memaksa saya untuk memberikan uang lebih sekedar membeli jajanan atau makanan untuk Imlek. Dan mami sudah repot me-listing belanjaan atau makanan yang akan disajikan dari 6 bulan sebelumnya. Mami itu sangat advance kalau masalah beginian. Persis seperti sahabat saya, Barbie. Dan seperti biasa saya suka ngoceh-ngoceh, “Ma… buat apa sih kita memaksakan diri untuk nyajiin makanan minuman sebanyak itu? Saudara juga pada ngerti kok kalau kita lagi kesulitan finansial.” Biasanya abis itu mami pasti ngomel-ngomel karena menurutnya Imlek yang satu tahun sekali itu patut dirayakan meriah. Dan kadang mami takut mungkin aja itu Imlek terakhir buat beliau. Setelah itu pasti saya omelin balik, “ Mami tuh ngomong apa sih? Kalau ngomong jangan asal. Tuhan sayang sama mami. Eca—panggilan rumah, sayang sama mami.” Lalu berakhir dengan pelukan.
APRIL

 

taken from https://msbboo.files.wordpress.com/

 

Nggak akan pernah saya lupa bahwa saya pernah meminta waktu 1 minggu penuh cuti kepada investor saya dibulan April. Yang saya rencanakan untuk saya habiskan waktu dengan mami. Melayani, menyayangi, ngobrol ngalur ngidul, membelikan apapun yang dia mau. Intinya, manjain mami. Tapi sayang, cuti itu nggak pernah terwujud karena salah 1 campaign klien yang begitu menyita waktu dan tenaga. Hingga investor saya pun juga terlalu sibuk untuk menggantikan saya ketika saya menanyakan apakah mungkin saya cuti? Karena mami juga mulai menanyakan gimana nasib cuti saya. Cuti 1 minggu tinggallah kenangan dan penyesalan. Penyesalan yang selalu datang diakhir.

 

 

 

 

One day, I had the opportunity to speak at a digital industry event. It was one of the hardest days of my life because Mum was so unwell. Before I left, I asked for her blessing. I kept asking, “Do you think I can do this? Speak in front of senior management?”

I’ll never forget what she said.

She told me she was proud of me. She was sad she couldn’t be there to watch me, but she said, “You have to believe. You’re not poor.”

To this day, I’m still not entirely sure what she meant. Maybe she meant I wasn’t lacking what truly mattered. Maybe she simply wanted me to believe in myself. Somehow, on that day, I wasn’t nervous.

 

 

 

 

Every smile you’ve seen from me in meetings has been real in the moment—but it doesn’t tell the whole story. I cried every day and every night. I don’t know when I’ll be okay. I just know I have to keep moving because life doesn’t stop. People often say life goes on. It does. But that doesn’t mean it’s easy. Behind every achievement I’ve had is Mum’s belief in me, her prayers, and her quiet encouragement. Menyelesaikan tulisan ini saja bukan perkara mudah. Hari ini saya membaca tulisan teman saya, mas Dimas, dengan judul; Berduka Itu Tidak Ada Tanggal Kadaluwarsa; Kita Tak Perlu Merasa Bersalah Untuk Itu
Saya ingat, beberapa orang mengatakan bahwa semua akan jauh lebih mudah seiring berjalannya waktu. Sesungguhnya, saya tidak berpikir hal itu akan terjadi. Saya percaya bahwa rasa duka itu tidak ada tanggal kadaluwarsa; kita hanya menemukan cara yang berbeda untuk menghadapi rasa itu dalam hidup kita, dan kita tak perlu merasa bersalah untuk itu. Karena ada masa dimana saya berusaha menunjukkan saya tegar, tetapi setiap menceritakan kenangan tentang ibu saya, it’s still melts me like butter.
                                          (dikutip dari https://dimasnovriandi.blog/)
SEKARANG
taken from https://d2ykdu8745rm9t.cloudfront.net/

 

2 bulan penuh saya habiskan waktu mengurung diri di kamar, tidak ke mana-mana, kadang saya tidak mau makan. Saya tidak punya tujuan hidup. Saya tidak tau apa yang saya mau dalam hidup saya. Baru kali ini saya merasa kosong. Hilang arah. Selama 27 tahun kebelakang, saya selalu tau apa yang akan saya lakukan dan inginkan. Kerjaan pun saya tinggalkan. Saya sangat benci dengan pekerjaan saya. Untung staff kantor mengerti dukanya saya. Sedih, depresi. Tubuh, hati, dan pikiran saya meronta untuk diberikan waktu. Waktu bersedih. Waktu berduka. Butiran hangat langsung meluncur dari manik mata tiap kali saya mengingat bahwa saya sekarang sendirian tanpa beliau. Nggak ada lagi sosok yang akan saya teriaki selepas pulang kerja, ‘MAMAAA… ECA PULAANNNGGG.’,’Mami makaan…’,’Mami, menurut mami gimana?’ Atau, mami yang merupakan sahabat terdekat untuk berbagi kebahagiaan bahwa saya berhasil mendapatkan klien. Those my precious time to share with. Through good and bad times together (BACA DI SINI)

 

There are thoughts that still haunt meWhat if I failed her?

What if I spent too much time working and not enough time with her?

I knew I was the person she depended on most. Yet I buried myself in work—the very work I once loved, and sometimes now struggle to think about.

I kept telling myself I was doing the right thing. I was trying to be professional. I was trying to build a future.

But grief has a way of rewriting every memory and filling it with guilt.

Dan ya, air mata semakin terus bergulir saat saya menuliskan ini. Sebagai seorang anak, saya masih merasa belum sepenuhnya bisa berbakti pada beliau. Masih banyak kurangnya. Dan hal tersebut adalah hal yang paling saya sesali. If someone asked me today what I want most in the world, my answer wouldn’t be money.It would be time.

Money feels meaningless when the one person you want to spend it on is gone.

If I could buy just one more day with Mum, I would.

I’d spend every second with her.

I’d tell her how much I love her, over and over again.

 
Kalau ditanya kondisi saya sekarang apakah sudah baik? Saya sendiri nggak bisa bilang saya baik. People say it takes months to heal, but I don’t think this is the kind of thing that ever fully heals. I’m just trying to accept that this was the best thing for her. Losing her was something I never imagined I’d have to go through.

Saya kangen mami. Kangen banget! Pernah suatu ketika saya begitu lelah, capek, dan ingin menyerah. Sesampai di rumah saya nangis sekencang-kencangnya. Mami sempat ngedumel karena saya menangis. Karena buat dia, tangisan itu nggak menyelesaikan masalah. Saya balas menjawab, “Ma, untuk saat ini aja Eca boleh ya nggak kuat? Eca pengin nangis. Eca capek. Eca capek banget! Eca janji nanti nggak nangis lagi.” Lalu mami terdiam. Setelah saya mulai tenang, beliau memanggil saya dan memeluk dengan erat. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Bahkan menanyakan alasan yang membuat saya memangis. Kami diam dalam pelukan. Rasanya badan yang lelah, kepala yang penat, tubuh yang lunglai ini langsung merasa hangat. Saya merasa nyaman. Saya tau ‘ini adalah rumah’ saya. Saya tau bahwa pelukan beliau adalah hal ternyaman di dunia ini dan nggak pernah bisa digantikan oleh apapun. Saya merasakan energi positif dan semangat. Saya merasakan dalam pelukan beliau, semua masalah saya terasa begitu kecil dan saya kembali menjadi gadis kecil mami. Gadis yang bermanja tanpa perlu memikirkan apapun.
 
Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan; sayangi orang tua kalian. Apalagi yang orang tuanya masih lengkap. Sejahat dan senyebelin apapun orang tua kalian, tetap mereka orang tua kalian. Kalian nggak tau alasan kenapa orang tua membuat keputusan yang kadang nggak masuk nalar kita. Orang tua itu juga manusia. Bisa berbuat salah dan nyebelin. Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Saya memang belum menjadi orang tua atau pun ibu. Melihat perjuangan, kesabaran, dan ketabahan mami membesarkan saya, itu sudah menjadi rejeki terbesar dan tak ternilai dalam hidup saya. Nggak ada orang tua sempurna. Seberapa buruknya mereka. Tapi tetap, mereka orang tua kita. Mereka bukan dewa. Mereka juga bisa terluka, sakit, merasa sendiri dan sedih. Sayangi dan habiskan waktu bersama orang tua kalian sebanyak yang kalian bisa. Uang bisa dicari, tapi waktu nggak bisa dibeli. Traveling sendirian atau sama teman bisa kapan-kapan, karena suatu destinasi nggak akan pindah dalam semalam.
I always love you, Mom. Always do. Impian saya hanya ingin membangun ‘istana kecil’ untuk mami. Dan itu belum terjadi hingga mami pergi meninggalkan saya pada 29 Juni 2017.
Mami tenang ya di sana. Karena aku sedang berusaha menyusun lagi hidup aku. Walau yang hanya bisa aku lakukan sekarang berdoa untuk mami agar mami tenang dan bahagia di sana. Eca berusaha nggak nangis walau sulit. Sulit banget, ma. Eca sayang sama mami. Sayang banget! Mami tahu seberapa keras Eca pengin ngebuktiin kalau mami nggak pernah gagal mendidik Eca menjadi orang sukses, ma. Eca kangen nyium mami 3 kali; dikening, pipi kiri dan kanan.

Today a reader, tomorrow a leader.
A good readers live a comment here ^ ^
I always try to reply your comment and visit back to your blog/website.
So, keep coming back and we can be a friend xoxo

24 thoughts on “ANNUAL LEAVE THAT NEVER HAPPENS

  1. Winda Trisuci says:

    cuma bisa peluk Elnie 🙂 ga mampu berkata apa-apa
    Mami Elnie sama cantiknya sama Elnie ya <3

    http://www.dajourneys.com

  2. Indah Juli says:

    Daku butuh waktu dua tahun untuk 'sadar' kalau mama sudah nggak ada, sudah nggak bisa lagi direcoki.
    Keep though ya :*

  3. Natalia Lie says:

    Eca.. Lece.. Ayo semangat lagi.. G kangen lo yang ceria dan sumringah.. G kangen kebawelan lo.. Tuhan tau setiap pergumulan lo.. Lw ga sendiri, kami sahabat lo sayang sama lo. ?

  4. vira says:

    Sedih sekali bacanya.. 🙁
    Maaf ya kalo kemaren-kemaren ini mungkin aku sempat ada salah kata, nggak maksud nambahin beban Elnie.
    Makasih udah sharing perasaannya di sini dan ngingetin tentang hub. dengan ortu yg masih ada.
    Cuma bisa ikut mendoakan kamu selalu diberi ketabahan dan makin kuat ngadepin keadaan ini.
    🙂

  5. Revi Pratiwi says:

    Mba elni, makasih udah sharing dan mengingatkan yg lain yang masih ada orangtua, kehilangan ibu adalah satu hal yang paling aku takutkan dalam hidup. Selalu kuat ya mba elni.

  6. Roosvansia Sipahutar says:

    El :""( speechless.
    Proud of you, perjuangan hidupmu luar biasa.
    Doaku bersamamu, sehat selalu.
    Terima kasih ya unt ingetin kami yg baca betapa waktu itu sangat berharga :((.
    God with you my dear. God bless you.

  7. Elnienesia Meirinza Putri Dewa says:

    makasih ya b. Makasih udah nemenin disaat gue nggak tau harus mesti ngapain :'(

  8. Elnienesia Meirinza Putri Dewa says:

    makasih ya ci Winda… *peluk balik* that's what I need. Mami lbh cantik dari aku ^ ^

  9. Elnienesia Meirinza Putri Dewa says:

    makasih ya mbak Indah. I dont know how much time that I need to realize she's not here, not be with me anymore :'(

  10. Elnienesia Meirinza Putri Dewa says:

    sama-sama, mbak. Semoga bermanfaat ya. Saya pun takut. Dan nggak akan pernah siap kehilangan. Krn rasanya masih nggak keruan sampe skg :'(

  11. Elnienesia Meirinza Putri Dewa says:

    Makasih ya Van… sayangi dan rawat nyokap bokap ya. You are lucky that you parents still there to take you to the aisle… seeing the beautiful daughter with a good man. xoxo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.